orang tua bijak mendampingi anak tangguh, keluarga yang penuh dengan cinta kasih, sukses di rumah, sukses di kantor
keluarga yang penuh dengan cinta kasih, sukses di rumah, sukses di kantor
Kamis, 29 September 2011
Rabu, 28 September 2011
Anak "bermasalah" di sekolah ? Jangan salahkan anaknya dulu deh.
Sebaliknya, anak-2 yang dianggap patuh, selalu rajin menggarap PR, nilai ulangan selalu tinggi, angka raport membanggakan, ternyata belum tentu berbahagia ketika dewasa. Hal ini akan dibahas lebih lanjut.
Pernah nonton film Gilmore Girls ? Si cantik yang sedari kecil termasuk anak yang rajin dan tampak gemar ke sekolah, ternyata memilih drop out dari perguruan tinggi favoritnya setelah bertemu sang pacar. Si Mama, yang single mother dan selalu bangga pada kedekatannya dengan si anak, menjadi sedih dan akhirnya hubungannya sempat merenggang dengan si anak setelah si anak merasa keputusannya utk tidak kuliah dulu dan ingin berhura-hura sebagaimana layaknya anak seusianya, tidak disetujui oleh mamanya.
Nah, jika ada anak yang bermasalah di sekolah, orangtua kerapkali kelabakan dan mencari tahu apa yang salah. Umumnya para ortu akan membawa anaknya ke psikolog. Kebanyakan setelah dites, anak dicap sebagai anak yang begini begitu, cap yang negatif. Tahukah anda bahwa cap negatif pada anak besar pengaruhnya pada perkembangan kejiwaan dia hingga dia mencapai usia dewasa ? Sedikit sekali anak-anak yang bisa menekan rasa kecewanya, ketika mendapat penilaian negatif dari orang disekitarnya bahwa dia memang punya masalah sehingga diprediksikan akan gagal dalam hidupnya. Orang-orang besar yang berhasil menekan rasa negatif tersebut, bisa kita temui dalam sejarah.
Beethoven misalnya, ternyata sempat dianggap gurunya tidak mungkin menjadi compositor musik. Orang tua Bill Cosby masih menyimpan raport anaknya di kelas 6 yang mendapat tulisan bahwa Bill adalah anak yang paling mengganggu di kelasnya. Thomas Alfa Edison adalah anak yang "malas" ke sekolah sehingga dia adalah contoh hasil drop-out yang "berhasil". Benjamin Franklin, ternyata hanya sempat mengenyam pendidikan formal di sekolah di grade 8-10 saja (kira-2 setingkat dengan SMP kelas 2 hingga SMU kelas 1). Banyak sekali contoh-contoh orang terkenal yang pada masa sekolahnya dulu dianggap bermasalah dan bahkan diperkirakan akan gagal dalam hidupnya di masa depan.
Jika anda merasa anak anda termasuk yang bermasalah di sekolah, jangan cepat-cepat mencari kesalahan pada si anak. Bahkan jangan cepat down dengan cap negatif dari psikolog, misalnya si anak ternyata hiperaktif kek, ADD kek, dsb. Kecuali jika jelas-jelas anda tahu sendiri, si anak memang secara genetik terlahir sebagai anak yang berbeda dengan anak-anak lainnya. Namun inipun jangan diremehkan. Allah SWT Maha Adil lho. Biarpun seorang anak dicap down syndrome, autis dsb; bisa jadi dia punya kelebihan luar biasa dalam suatu hal yang tidak bisa dicapai oleh anak-anak lain yang dianggap normal.
Yang salah siapa dong ?
Sekarang jika kita merasa kesalahan bukan pada diri si anak, lantas pada siapa kita bisa menyalahkan mengapa si anak menjadi bermasalah. Ayo, sebelum bicara hal ini lebih lanjut, tengoklah masa lalu anda saat masih di sekolah dulu. Jika anda dulu termasuk anak yang rajin dan tak bermasalah di sekolah, mungkin anda bisa sedikit berempati pada teman sekelas anda yang dulu sering dianggap bermasalah. Coba tengok sekarang dia bagaimana. Bisa jadi dia ternyata menjadi businessman yang sukses, punya perusahaan yang berjalan dengan baik, anak buah yang respek pada dia. Atau ternyata dia punya keahlian yang membuat dia terkenal, padahal dulunya bukan hanya teman sekelas, guru dan ortunya pun mengira dia bakalan gagal dalam hidupnya.
Sebaliknya jika anda dulu termasuk murid yang "rata-rata", artinya raport tidak selalu tinggi tapi tidak juga rendah nilainya, tidak selalu mendapat pujian guru, tapi juga tak mendapat masalah di sekolah; coba diingat lagi apakah dulu anda termasuk senang masuk sekolah ? Pernahkah di masa lalu, anda sempat merasa malas masuk sekolah, mencoba mencari cara agar bisa bolos sekolah, pura-pura sakit kek, gak enak badan kek, dsb.
Sekarang jika anda termasuk anak yang bermasalah saat anda masih kecil, apakah hal itu mempengaruhi masa kini anda ? Apakah anda tetap bermasalah sekarang ? Bisakah anda menekan rasa bersalah karena dicap sebagai anak bermasalah, dan kini anda menjadi orang sukses ?
Awal dari semua masalah di sekolah sebetulnya bukan berasal dari si anak, seperti banyak orang berpendapat. Cobalah anda pikir sejenak, jika anda memiliki anak lebih dari satu anda akan mulai menilai betapa berbedanya anak yang satu dengan yang lain. Si kakak suka mencari perhatian dan sangat aktif bergerak, adiknya kalem luar biasa, mungkin pula anak ketiga suka menangis dan tersinggung tetapi suka menolong kakak-kakaknya. Ini hanya contoh.
Jadi dari segi kepribadian, watak dan karakter, tiap anak itu unik, begitu pula kita yang telah dewasa. Sayangnya sedikit sekali orang yang mengetahui bahwa keunikan ini mempengaruhi gaya belajar anak, dan ini bisa terbawa hingga dewasa dalam berbagai hal, termasuk belajar beradaptasi dengan lingkungan kerja, tugas-tugas di kantor, maupun dalam bermasyarakat.
Jika dipikir lagi lebih jauh mengapa anak sempat dicap bermasalah di sekolah, maka coba tengoklah ke sistem pengajaran di sekolah itu sendiri. Berapa banyak murid yang diajar di sekolah tersebut, berapa perbandingan guru dan murid di kelas, bagaimana cara guru mengajarkan sesuatu pada si anak, bagaimana kurikulum di sekolah, bagaimana guru menilai kepandaian dan kemahiran anak ?
Sekolah adalah sebuah institusi yang mengajarkan segala sesuatu dengan cara yang bisa disebut sama untuk semua muridnya. Sebagai orang tua saja kita harus mengakui, bahwa kita tidak bisa menerapkan sistem mendidik yang sama pada anak-anak kita, karena setiap anak berbeda reaksi dan cara penyerapannya. Lantas bagaimana mungkin sekolah bisa memastikan anak-anak semuanya akan bisa menyerap pelajaran dengan baik, sedangkan setiap anak itu unik gaya belajarnya ?
Di USA saja, menurut pengarang buku Discover Your Child's Learning Style; Mariaemma Willis, MS dan Victoria Kindle Hodson Ma, terdapat sistem yang mengejutkan di sekolah. Terdapat grafik yang dianggap normal jika hasilnya seperti bell; ini didasarkan oleh penemuan Abraham De Moivre pada tahun 1733 yang disebut The Bell Curve. Pada sistem ini, anak-2 yang ditemukan di atas score dianggap pintar dan cerdas, anak-2 yang berada di tengah-tengah score dianggap normal dan seperti diduga yang mendapat score dibawah rata-rata dianggap tidak terlalu pintar, alias bodoh atau gagal.
Seperti diduga, anak-anak yang berada di bawah normal tersebut akan mendapat perhatian ekstra agar bisa mengejar ketinggalan dan berada di barisan standard alias anak-anak normal. Sebaliknya anak-anak yang diatas normal, akan mendapat perhatian ekstra pula karena para guru akan bangga sekali jika menghasilkan murid yang dianggap ber-IQ tinggi, dan berhasil di sekolah. Banyak sekali orang tua dan guru yang sampai saat ini mengukur keberhasilan di sekolah dengan keberhasilan di luar sekolah, terutama masa depan anak. Padahal berbagai penelitian membuktikan bahwa anak yang dianggap berhasil di sekolah karena dianggap ber-IQ tinggi belum tentu bisa berhasil di masa depannya, kecuali pada bidang-bidang tertentu. Kini bahkan banyak yang setuju dengan pendapat Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence, bahwa EQ lebih membawa pengaruh pada keberhasilan seseorang dalam hidupnya dibanding IQ.
Who C.A.R.E.S ?
Sekarang para orang tua tak perlu bersedih hati jika anak dianggap bermasalah di sekolah. Rasulullah SAW bersabda bahwa para ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anak. Maka jika anak dianggap bermasalah di sekolah, adalah tugas para ibu sebagai sekolah anak-anak yang pertama dan ayah sebagai "kepala sekolah" di rumah, untuk mengarahkan anak-anaknya agar tidak menjadi terpengaruh oleh cap negatif dari luar, supaya tetap menjadi anak-anak yang berhasil dalam hidupnya.
Metode yang disarankan di buku Discover Your Child's Learning Style untuk para orang tua adalah C-A-R-E-S. Mari kita bahas satu demi satu.
==================================================================
C = Celebrate your child's uniqueness (Rayakan keunikan anak anda)
==================================================================
Jadi daripada ikut menjadi negatif karena guru atau orang luar menganggap anak kita bermasalah (dan jika kita merasa negatif pada anak kita, si anak akan bisa merasakannya dan menjadi tak percaya diri), cobalah rubah menjadi positif dengan "merayakan" keunikan anak anda. Bagaimana anda bisa merayakannya jika anda tidak merasa ada yang perlu dirayakan ? Insya Allah hal ini akan dibahas tersendiri.
Maka kunci pertama adalah = Celebrate Vs Criticize. Artinya berbahagialah dengan keunikan anak anda, jangan mengkritik si anak jika dianggap bermasalah.
==================================================================
A = Accept your role as a teacher (Terimalah tugas anda sebagai guru)
==================================================================
Ya, anda adalah guru bagi anak anda, diakui maupun tidak. Mungkin banyak orang tua yang merasa tak percaya diri menjadi guru bagi anak-anaknya karena tidak mendapat pendidikan formal sebagai guru, sehingga tak tahu apa yang harus dilakukan untuk menjadi guru. Tetapi cepat atau lambat anda akan mengakui bahwa anda bisa mendidik anak anda biarpun tanpa pernah menginjak bangku kuliah di jurusan perguruan (IKIP misalnya). Anda adalah model yang dicontoh anak anda sejak dia lahir ke dunia. Adalah tugas anda untuk terus mendidiknya hingga dewasa kelak, apalagi anak adalah amanat dari Allah SWT.
Maka disini kuncinya Accept Vs Avoid. Terimalah tugas menjadi guru ini dibanding menghindarinya. Anak memang akan sekolah tetapi dia akan pulang kerumah, dan dirumahlah proses belajar yg sesungguhnya terjadi. Belajar untuk hidup secara praktis, bukan teoritis semata.
===================================================================
R = Respond rather than React (Beri respon daripada bereaksi)
===================================================================
Orang tua yang responsive adalah orang tua yang selalu tanggap pada perilaku anak, cara berpikir, opini anak, kebiasaan anak, hobby dsb. Jadi mereka akan memberi perhatian pada kebutuhan anak, pendapat dan perasaan anak; lalu mengarahkannya ke arah yang benar. Pada anak yang dianggap bermasalah, orang tua yang responsive akan lebih besar keberhasilannya untuk mengarahkan "masalah" anaknya di sekolah tadi, sehingga anak akan tetap sukses di kemudian hari.
Sebaliknya orang tua yang Reactive malah suka mengancam, membandingkan, menyalahkan, memberi cap negatif pada anaknya bahkan menghukum jika si anak dianggap bermasalah di sekolah. Pernah mengenal orang tua tipe ini ? Cobalah perhatikan, jika dia mendapat surat panggilan dari sekolah yang mengatakan si anak begini dan begitu, dia akan menghukum anak, menceramahinya, memarahinya dsb tanpa memberi kesempatan pada si anak untuk menjelaskan mengapa dia begini dan begitu. Kalaupun si anak mendapat kesempatan untuk menjelaskan, orang tua model begini hanya menganggap si anak membela diri dan berusaha membenarkan diri sendiri. Ujung-ujungnya si anak tetap saja mendapat perlakuan negatif dari orang tuanya. Jadi kini bukan saja di sekolah, namun juga di rumah si anak akan merasa bahwa dia dianggap bermasalah. Padahal belum tentu begitu.
Cara untuk menjadi orang tua yang responsive sebenarnya mudah :
1. Dengarkan
Anak yang berusaha menjelaskan sesuatu, jangan langsung dihakimi. Seorang anak yang menganggap bahwa pendapat, perasaan dan dirinya didengar oleh orang tuanya, akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri. Biarpun mungkin si orang tua tidak setuju dengan pendapat si anak, cobalah bertahan dengan cara mendengar ini. Jika ini anda lakukan berkali-kali, anak akan merasa aman untuk mengeluarkan uneg-unegnya pada orang tua dan di kemudian hari akan berguna untuk memonitor perkembangan dan perilaku anak, secara langsung dari si anak sendiri, bukan dari penilaian orang lain saja.
2. Pahami
Proses mendengarkan si anak adalah langkah awal, namun jika kita mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan berusaha memahami cara berpikirnya maupun alasannya berbuat sesuatu (terutama dikaitkan pada keunikan si anak, watak dan kebiasaannya); maka si anak akan merasa bahwa dia benar-benar didengar dan dimengerti. Memahami anak bukan selalu berarti anda akan setuju dengan dia. Anda akan menunjukkan pada si anak bahwa apapun yang ia lakukan atau ceritakan adalah hal penting bagi si anak. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja ingin dimengerti. Henry James menulis "Keinginan yang mendalam pada setiap jiwa manusia adalah untuk dimengerti".
3. Belajarlah menunggu
Disini, jika si anak mulai memberanikan diri mengungkapkan perasaannya, cara berpikirnya, alasannya berbuat sesuatu dsb; jangan terburu memotong dan memberi penjelasan. Tunggulah barang sejenak, sampai semua uneg-uneg anak keluar.
Jika si anak merasa anda mendengarkan tetapi terburu-buru memotong pembicaraan mereka, dia akan merasa anda tidak benar-benar mendengarkan dan berusaha memahami. Dia akan berhenti menjelaskan lebih jauh dan di lain waktu dia mungkin akan merasa ogah menjelaskan sesuatu pada anda.
Ingatlah ini :
Jika anda mulai mendengar dan memahami mereka, anak-anak akan mulai mendengar dan memahami anda pula.
4. Ikuti
Beri kesempatan si anak untuk meng-explore dan menemukan hal-hal baru. Anak yang merasa bahwa orang tuanya memahami keinginannya untuk meng-explore dan menemukan hal-hal yang ia anggap baru, akan merasa mantap dan semakin ingin untuk belajar. Ikutilah ke arah mana anak ingin menemukan hal-hal baru dalam hidupnya. Dengan meraih kepercayaan anak karena kita berusaha mendengar, memahami dan selalu menunggu agar si anak mengeluarkan seluruh isi hatinya; kita mulai mendapat kepercayaan dari si anak. Maka si anak akan merasa senang jika aktifitasnya untuk mempelajari hal-hal baru diikuti oleh orang tuanya tanpa secara langsung dikoreksi jika ada yang salah (tentu kecuali pada kondisi tertentu).
Lihatlah seorang anak balita yang berusaha memakai pakaiannya sendiri. Jika belum-belum si orang tua merasa tak sabar karena si anak pasti melakukan banyak kesalahan, si anak mungkin menjadi malas mencoba lagi. Namun jika si orang tua memberi semangat anaknya untuk mencoba lagi dan lagi, tanpa langsung turun tangan memakaikan baju pada si anak (misalnya hanya dengan mengingatkan kalau baju itu dibalik mungkin tampak bagus karena ada gambar boneka kucing di dada, daripada di punggung) si anak akan memahami bahwa baju itu ia pasang terbalik. Biarkan dia sendiri yang membuka baju dan memperbaikinya. Jika kita buru-buru turun tangan membalik baju itu sendiri, si anak akan merasa bahwa dia salah dan tak akan pernah berhasil memakai baju sendiri dengan baik.
Sebaliknya tentu ada kondisi tertentu kita harus langsung turun tangan mengoreksi anak. Misalnya jika si anak berusaha untuk berjalan sendiri, ikuti dulu kemana ia pergi. Seandainya anda tahu si anak hendak menyeberang jalan, tentu anda harus langsung turun tangan menyetopnya dan menjelaskan apa yang berbahaya dari menyeberang sendirian sampai dia cukup umur untuk bisa menyeberang.
Jadi prinsip mengikuti ini seperti tarik-ulur layang-layang. Ada kalanya kita ulur, kita biarkan dia mengexplorasi sesuatu tetapi ada kalanya kita tarik jika perlu.
===================================================================
E = Expand Your View of where learning takes place
===================================================================
Disini, jangan terlalu kaku menganggap anak hanya harus belajar di bangku sekolah atau lewat kursus saja. Dalam 24 jam, proses belajar anak bahkan orang dewasa bisa berlaku dimana saja. Bahkan saat menonton TV pun sebetulnya anak belajar sesuatu, walaupun dia tidak merasa sedang belajar. Itu sebabnya, kita mesti mengarahkan agar si anak bisa belajar apa saja dan dimana saja, asalkan itu benar. Disini peran orang tua sangat besar sekali, karena selepas dari sekolah atau tempat kursus, anak akan pulang kerumah dan kitalah yang mengajarnya.
Katakan saja dia menonton TV atau bermain game, coba perhatikan film apa yang ia tonton, game apa yang ia mainkan. Proses tarik ulur terjadi disini. Jika film itu anda nilai bagus dan ada nilai edukatifnya, biarkan saja sambil sekali-sekali mengikutinya, lalu mengajak anak berdiskusi sesudah film itu selesai. Ini karena sekarang banyak sekali film yang mendapat rating film anak-anak ternyata tidak cocok dibuat untuk anak-anak, misalnya ada diselipkan kekerasan, kata-kata kotor, tidak menghormati orang yang lebih tua, menindas yang lebih muda dsb. Bahkan sebagai muslim kita juga mesti berhati-hati karena produk edukasi dari non muslim, banyak diselipi ajaran-ajaran yang bertentangan dengan aqidah. Misalnya saja, biarpun Dora The Explorer ada nilai edukatifnya, namun kita mesti hati-hati saat salah satu topiknya membahas kesyirikan (hal ini sempat saya bahas disini). Itu baru Dora, padahal ada 1001 produk film maupun buku dari non muslim, yang menyelipkan aqidah yang merusak.
Jika kita tak mengikuti, alias menganggap semua buku dan film edukatif dari non muslim itu bagus semua; bukan tidak mungkin kita menyesal di kemudian hari ketika si anak mulai menganggap hal-hal yang bertentangan dengan aqidah itu adalah hal normal dan baik.
==================================================================
S = Stop Vs Support
==================================================================
Disini kita perlu berhenti untuk beranggapan jika si anak dianggap bermasalah di sekolah berarti kelak dia akan mengalami kegagalan dalam hidupnya. Sebaliknya kita perlu mensupport anak yang dianggap bermasalah ini, dengan memahami ada apa dibalik "masalah tersebut". Apa yang perlu kita pahami disini adalah tiap anak itu unik dalam berbagai hal dan ini mempengaruhi cara dan gaya dia belajar. Agar kita bisa memberi support yang tepat, ada baiknya kita memahami apa saja yang mempengaruhi gaya belajar anak.
Selasa, 27 September 2011
ANAK SUSAH MAKAN
Penyebab anak susah makan
BATITA yang mogok/susah makan kerap membuat orang tua kehabisan akal. Segala cara sudah dicoba, tetapi yang ditemui justru jalan buntu. Sebenarnya apa sih dalang dari masalah makan pada anak? Menjelaskan fenomena anak susah makan bisa dibilang gampang-gampang susah. “Ah mungkin sedang masanya” atau ”lagi bosan dengan menunya kali…”. Menginjak usia batita semangat bereksplorasi si kecil meningkat, seringkali makan menjadi aktivitas kurang menyenangkan dibanding bermain. Coba terapkan pola rutin, ada waktu bermain, ada waktu makan, ada pula waktu tidur.
Sayangnya tak semua masalah kesulitan makan sesederhana itu, jika jurus praktis untuk menghadapi aksi mogok makan si kecil menemui jalan buntu, kemungkinan besar ada penyebab medis dari kondisi ini. Biang keladi yang sering ditemui adalah hilangnya napsu makan akibat gangguan pencernaan. Amatilah keseharian si kecil, apakah sering mengalami :
- Perut kembung
- Cegukan
- Sering buang angin
- Muntah atau mual bila disuapin makanan
- Nyeri perut sesaat yang hilang timbul
Ini kerap disertai gangguan perilaku seperti aktif berlebihan, gangguan tidur malam dan gangguan konsentrasi. Tak jarang terdapat gangguan kesehatan gigi, sariawan dan gusi berdarah. Yang tak kalah pentingnya amatilah apakah si kecil mengalami gangguan gerakan mengigit, mengunyah dan menelan, dengan cara ketika anak muntah amati apakah makanan yang tadi dimakan masih utuh, jika ya, tandanya si kecil mengalamani kesulitan mengunyah dengan sempurna.
Meski lebih kecil pengaruhnya faktor psikologis juga mempengaruhi napsu makan anak. Misal orang tua terlalu protektif atau pemarah, keluarga tidak harmonis.
Lantas, bagaimana pemecahan yang bisa kita lakukan:
- Pastikan apakah betul anak mengalami kesulitan makan.
- Carilah penyebab kenapa si kecil kesulitan makan.
- Identifikasi apakah ada komplikasi yang terjadi.
- Berikan pengobatan terhadap penyebabnya.
- Bila penyebabnya gangguan saluran cerna, hindari makanan tertentu yang menjadi penyebab gangguan.
7 Kiat Atasi Anak Susah Makan
ANAK susah makan menjadi kerumitan tersendiri bagi banyak orangtua. Berbagai cara diupayakan agar nutrisi dari makanan tetap diasup dan anak bisa tumbuh sehat.
Untuk Anda yang sedang mengatasi kesulitan makan si kecil, simak tujuh berikut:
1. Luangkan waktu untuk menyuapi anak
Bagi Anda yang bekerja, luangkan waktu sebentar saja, tapi berkualitas untuk menyuapi anak. Sebab, sebenarnya anak-anak sangat mengerti bila ibu atau bapaknya bekerja.
2. Buat suasana hatinya tenang dan nyaman dahulu
Berikanlah kepuasan psikis kepada anak yang sesuai dengan usianya dan buatlah agar suasana hatinya senang, misalnya anak makan sambil jalan-jalan, melihat kereta api, dan lain-lain.
3. Variasikan menu makan anak
Anak tidak mau makan mungkin karena bosan. Jika perlu, buat menu makan anak minimal selama sepekan untuk mempermudah mengatur variasi makan.
4. Sajikan secara menarik
Jangan mencampuradukkan makanan. Pisahkan nasi dengan lauk-pauknya. Hias dengan aneka warna dan bentuk. Jika perlu, cetak makanan dengan cetakan kue yang lucu.
5. Jangan beri camilan padat kalori jelang jam makan
Hal itu mengakibatkan anak tidak merasa lapar. Seperti memberinya permen, minuman ringan, cokelat, hingga camilan ber-MSG. Akibatnya, ketika jam makan tiba, anak sudah kekenyangan.
6. Hindari minum susu terlalu banyak
Susu di banyak keluarga dianggap sebagai makanan dewa yang bisa menggantikan makanan utama, seperti nasi, sayur, dan lauk-pauknya. Orangtua cenderung kurang sabar memberikan makanan kasar. Atau orangtua sering takut anaknya kelaparan sehingga makanan diganti dengan susu. Akhirnya, daripada perut si anak tidak kemasukan makanan, diberikan saja susu secara berlebihan.
7. Libatkanlah anak untuk menyiapkan makanan
Misalnya dengan meminta pertolongannya untuk mengambilkan buah atau sayur di pasar swalayan maupun membantu menyiapkan meja makan. Selain itu, anak Anda memerlukan contoh dari orangtuanya.
Mengatasi anak susah makan
Yang perlu dilakukan orangtua pertama kali adalah mencari tahu penyebab anak tidak mau makan. Jika memang tidak ditemukan gangguan fisik seperti di atas, maka penyebabnya adalah masalah psikis. Secara umum, anak tidak mau makan mungkin karena beberapa hal berikut:
- Anak masih belum trampil mengolah makanan.
- Tekstur makanan yang tidak sesuai dengan perkembangannya.
- Suasana makan yang kurang menyenangkan.
- Trauma dengan acara makan.
- Bosan dengan menu, dll
Berikut ini beberapa gejala anak sulit makan dan solusi yang mungkin bisa kita lakukan agar nafsu anak kembali normal.
Jika ini dilakukan oleh anak yang baru belajar makan, umur 6 bulan ke atas, kemungkinan disebabkan organ-organ mulutnya belum trampil mengolah makanan atau anak merasa aneh dengan makanan yang relatif baru baginya. Sebaiknya tekstur makanannya diperlembut dan tetap sabar menyuapi.
Kemungkinan si kecil sedang mengeksplorasi organ-organ di mulutnya. Jika bayi Anda 8 bulan ke atas, bisa jadi karena makanannya terlalu cair. Anda dapat mengentalkan tekstur makanannya agar tidak disemburkan.
Anda bisa merangsang anak agar lebih cepat mengunyah dengan mempertahankan kehangatan makanan. Bisa dengan menyajikannya dalam mangkuk lebih besar berisi air panas/hangat. Atau membagi porsinya menjadi 2, dimana 1/2 porsi dihidangkan sambil 1/2 porsi yang lainnya tetap dihangatkan.
Untuk anak 1 tahun ke atas dapat ditambahkan lauk yang crispy seperti tempe goreng, nugget, perkedel jagung atau mungkin sekedar bawang goreng agar anak terpacu untuk lebih giat menggiling makanan dalam mulutnya.
4. Menutup mulutBiasanya ini terjadi pada anak usia 10 bulan-2 tahun. Kemungkinan penyebabnya adalah keinginan untuk protes. Cari tahu keinginan anak. Coba turuti jika memungkinkan atau jelaskan alasan jika memang keinginannya tidak dapat dipenuhi. Dengan bahasa kasih dan konsistensi, maka masa ini bisa dilalui dengan baik.
5. Pilih-pilih makanan
Anda bisa mengolah makanan yang tidak disukainya dalam bentuk yang menarik, bentuk yang lembut hingga dapat disamarkan diantara bahan makanan yang lain, atau Anda gabungkan dengan makanan favoritnya.
Selain itu, makanlah makanan yang tidak disukainya itu di hadapannya dengan perasaan gembira dan tunjukkan ekspresi betapa nikmatnya apa yang Anda makan. Lama-lama, si kecil bisa tertarik untuk mencobanya.
Tiap masa anak sulit makan mungkin berbeda-beda cara menanganinya. Masa anak susah makan ini bisa sampai 1-2 bulan. Orangtua memang dituntut untuk sabar, kreatif dan konsisten.
http://www.bayisehat.com/baby-feeding-mainmenu-29/253-mengapa-anak-susah-makan.html
http://lifestyle.okezone.com/read/2011/03/23/196/438083/7-kiat-atasi-anak-susah-makan
http://www.bayisehat.com/baby-feeding-mainmenu-29/254-mengatasi-anak-susah-makan.html
Rajin Pangkal Pandai
Ini memang kata mutiara yang sudah kuno, penginggalan nenek moyang, yang sudah terbukti amat sangat ampuh. Kita semua sudah tau bahwa rajin adalah pangkal pandai, yang sedikit adalah kita-kita yang benar-benar mempraktekkannya, hehe..
Rajin memang sangat luas. Tentu rajin bukan hanya berarti rajin menyapu, rajin bangun pagi dan rajin datang ke kantor saja. Rajin belajar juga termasuk, rajin mempraktekkan apa yang dipelajari, rajin membaca, rajin menjaga semangat, rajin berinovasi, rajin menghilangkan rasa malas, rajin praktekkan bahasa inggris, dan sebagainya. Dalam bisnis online berlaku pula rajin beriklan, rajin mengevaluasi iklan, rajin melakukan follow-up, rajin melayani pelanggan yang beli, rajin membuat sales letter, rajin belajar SEO dan sebagainya. Setuju ya?
Dengan mempraktekkan kata mutiara Rajin Pangkal Pandai ini dalam arti yang sangat luas maka kita akan lebih pandai dalam arti luas pula.
Senin, 26 September 2011
Buah hati tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas
AGAR si buah hati tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas, maka banyak hal yang harus dipersiapkan sejak dini. Tiga tahun pertama adalah periode penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal. Memasuki usia 1 tahun aktifitas anak kian meningkat pesat. Pada masa ini hingga usia 3 tahun adalah periode yang sangat menentukan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal. Karenanya di masa inilah perhatian lebih dari orang tua sangat dibutuhkan. Baik dalam hal memberikan kasih sayang, mendidik maupun menyediakan nutrisi untuk menunjang aktifitas maupun pertumbuhan kecerdasan anak.
2 faktor utama yang mempengaruhi kualitas kecerdasan
2 faktor utama yang mempengaruhi kualitas kecerdasan
- Faktor keturunan / genetik.
- Faktor lingkungan.
Anak dari orang tua yang cerdas akan cenderung cerdas pula apabila faktor lingkungan mendukung kecerdasannya sejak di dalam kandungan, masa bayi dan balita. Walaupun orang tuanya cerdas tetapi jika faktor lingkungan tidak dipenuhi maka potensi kecerdasannya tidak akan optimal. Sedangkan anak yang lahir dari orang tua yang kebetulan tidak berkesempatan mengikuti pendidikan tinggi belum tentu mereka tidak cerdas. Hal ini mungkin disebabkan karena tidak ada kesempatan atau adanya hambatan ekonomi. Anak bisa menjadi cerdas jika dicukupi kebutuhan untuk perkembangan kecerdasannya sejak masih di dalam kandungan.
Faktor lingkungan terdiri dari 3 kebutuhan pokok untuk mengembangkan kecerdasan yaitu:
- Kebutuhan fisik biologis terutama untuk pertumbuhan otak, system sensorik dan motorik.
- Kebutuhan emosi kasih sayang mempengaruhi kecerdasan emosi, inter dan intrapersonal.
- Kebutuhan stimulasi dini merangsang kecerdasan-kecerdasan lain.
Pemenuhan 3 kebutuhan pokok untuk kecerdasan
- Kebutuhan fisik-biologis akan terpenuhi dengan nutrisi yang baik sejak di dalam kandungan sampai remaja untuk perkembangan otak yang optimal.
- Kebutuhan emosi-kasih sayang terpenuhi dengan melindungi, menimbulkan rasa aman dan nyaman, memperhatikan dan menghargai anak.
- Kebutuhan stimulasi meliputi rangsangan yang terus menerus dengan berbagai cara untuk merangsang semua system sensorik dan motoriknya.
Ketiga kebutuhan pokok ini harus diberikan secara bersamaan sejak janin berada dalam kandungan karena akan saling berpengaruh satu sama lain. Apabila kebutuhan fisik tidak tercukupi, maka gizinya akan kurang, sering sakit dan dapat berakibat tidak optimalnya perkembangan otak anak.
Bila kebutuhan emosi dan kasih sayang tidak tercukupi maka kecerdasan inter dan intra personal juga akan rendah. Bila stimulasi dalam interaksi sehari-hari kurang bervariasi maka perkembangan kecerdasan juga kurang optimal.
Meski belum ada definisi pasti mengenai kecerdasan, menurut psikolog Roslina Verauli, M.Psi, secara umum kecerdasan merupakan kapasitas yang dimiliki individu sehingga memungkinkan ia untuk belajar, bernalar, dan memecahkan masalah serta melakukan tugas-tugas kognitif tingkat tinggi lainnya.
Apa saja tugas-tugas kognitif tingkat tinggi itu? “Kemampuan berbahasa, daya ingat yang baik, mampu memecahkan masalah, serta kemampuan berpikir kritis atau menalar,” kata psikolog yang akrab disapa Vera ini.
Tentu saja, kecerdasan pada bayi usia di atas lima tahun tidak sama dengan kecerdasan pada balita. Pada usia bayi, kecerdasannya masih seputar perkembangan kemampuan motorik dan bahasa. Sedangkan pada usia balita, kemampuan ini berkembang menjadi kemampuan motorik kasar, motorik halus, bahasa, hingga kemampuan personal dan sosial. Bila anak menunjukkan kemampuan yang melebihi anak seusianya, dapat dikatakan ia memiliki kapasitas belajar yang baik alias cerdas.
Kecerdasan pada anak bisa dideteksi sejak dini, bahkan sejak ia baru lahir. Untuk mengukurnya, orangtua perlu memahami status perkembangan yang normal pada bayi dan balita. Misalnya saja pada usia 6 bulan, bayi seharusnya mampu belajar duduk dan bisa memegang benda kecil atau makan kue yang diberikan.
Atau anak usia dua tahun seharusnya sudah mulai berkomunikasi dengan kata-kata, serta penuh rasa ingin tahu. “Orangtua harus peka dan bisa mendeteksi sejauh mana perkembangan kemampuan anaknya. Kalau ada keterlambatan, langsung diwaspadai apakah tumbuh kembangnya terhambat atau memang orangtua kurang menstimulasi,” kata Vera.
Sebagai pedoman, ada beberapa tahap perkembangan yang dianggap normal dalam arti sudah bisa dikuasai oleh anak pada usia tertentu.
0-3 bulan:
Hanya menampilkan respons refleks atas stimulus. Bahasa yang dikuasai hanyalah berupa tangisan.
4 bulan:
Mulai memiliki kontrol atas tubuhnya sendiri dan menunjukkan awal mula kemampuan motorik halus. Mulai mampu merespons secara sosial dengan senyuman dan bunyi-bunyian.
6 bulan:
Mulai belajar duduk dan merangkak. Sudah memiliki kemampuan mengontrol gerakan tangan sehingga mampu memegang benda kecil atau makan kue yang diberikan. Bahkan sudah memiliki kemampuan koordinasi mata dan tangan untuk menggapai benda.
9 bulan:
Sudah mulai mampu menggunakna jari jemarinya untuk makan sendiri. Mulai mencoba merangkak dan berdiri. Mencoba menggunakan kata atau suku kata sederhana.
12 bulan (tahun pertama):
Terlihat perkembangan yang cukup pesat pada anak dan ia mulai menunjukkan kemampuan menguasai berbagai hal.
Tahun ke-2:
Mulai independent, senang mengeksplorasi, penuh rasa ingin tahu, mencoba berbagai kemampuan baru, berkomunikasi dengan kata-kata, mencoba memahami sebab-akibat melalui kemampuan motorik, dan menguasai proses belajar dalam arti yang sesungguhnya.
Tahun ke-3:
Anak sudah menunjukkan penguasaan yang jauh lebih baik pada berbagai alat untuk belajar, seperti bahasa, ingatan, kemampuan motor, dan perasaan tentang dirinya sendiri.
Tahun ke-4 dan ke-5:
Kemampuan belajar anak jauh lebih berkembang sehingga memungkinkan ia menerima proses belajar secara formal.
Mengintip Kecerdasan Anak Sejak Dini
Apakah si Upik yang sudah pandai bicara dan berhitung di usia 2 tahun bisa dibilang anak cerdas? Bagaimana dengan anak yang telah lancar membaca di usia 4 tahun, layakkah disebut cerdas? Inteligensi yang tinggi seringkali dikaitkan dengan orang yang punya kemampuan secerdas Albert Einstein. Padahal, hingga saat ini belum ada ahli yang bisa merumuskan definisi kecerdasan dengan tepat.Meski belum ada definisi pasti mengenai kecerdasan, menurut psikolog Roslina Verauli, M.Psi, secara umum kecerdasan merupakan kapasitas yang dimiliki individu sehingga memungkinkan ia untuk belajar, bernalar, dan memecahkan masalah serta melakukan tugas-tugas kognitif tingkat tinggi lainnya.
Apa saja tugas-tugas kognitif tingkat tinggi itu? “Kemampuan berbahasa, daya ingat yang baik, mampu memecahkan masalah, serta kemampuan berpikir kritis atau menalar,” kata psikolog yang akrab disapa Vera ini.
Tentu saja, kecerdasan pada bayi usia di atas lima tahun tidak sama dengan kecerdasan pada balita. Pada usia bayi, kecerdasannya masih seputar perkembangan kemampuan motorik dan bahasa. Sedangkan pada usia balita, kemampuan ini berkembang menjadi kemampuan motorik kasar, motorik halus, bahasa, hingga kemampuan personal dan sosial. Bila anak menunjukkan kemampuan yang melebihi anak seusianya, dapat dikatakan ia memiliki kapasitas belajar yang baik alias cerdas.
Kecerdasan pada anak bisa dideteksi sejak dini, bahkan sejak ia baru lahir. Untuk mengukurnya, orangtua perlu memahami status perkembangan yang normal pada bayi dan balita. Misalnya saja pada usia 6 bulan, bayi seharusnya mampu belajar duduk dan bisa memegang benda kecil atau makan kue yang diberikan.
Atau anak usia dua tahun seharusnya sudah mulai berkomunikasi dengan kata-kata, serta penuh rasa ingin tahu. “Orangtua harus peka dan bisa mendeteksi sejauh mana perkembangan kemampuan anaknya. Kalau ada keterlambatan, langsung diwaspadai apakah tumbuh kembangnya terhambat atau memang orangtua kurang menstimulasi,” kata Vera.
Sebagai pedoman, ada beberapa tahap perkembangan yang dianggap normal dalam arti sudah bisa dikuasai oleh anak pada usia tertentu.
0-3 bulan:
Hanya menampilkan respons refleks atas stimulus. Bahasa yang dikuasai hanyalah berupa tangisan.
4 bulan:
Mulai memiliki kontrol atas tubuhnya sendiri dan menunjukkan awal mula kemampuan motorik halus. Mulai mampu merespons secara sosial dengan senyuman dan bunyi-bunyian.
6 bulan:
Mulai belajar duduk dan merangkak. Sudah memiliki kemampuan mengontrol gerakan tangan sehingga mampu memegang benda kecil atau makan kue yang diberikan. Bahkan sudah memiliki kemampuan koordinasi mata dan tangan untuk menggapai benda.
9 bulan:
Sudah mulai mampu menggunakna jari jemarinya untuk makan sendiri. Mulai mencoba merangkak dan berdiri. Mencoba menggunakan kata atau suku kata sederhana.
12 bulan (tahun pertama):
Terlihat perkembangan yang cukup pesat pada anak dan ia mulai menunjukkan kemampuan menguasai berbagai hal.
Tahun ke-2:
Mulai independent, senang mengeksplorasi, penuh rasa ingin tahu, mencoba berbagai kemampuan baru, berkomunikasi dengan kata-kata, mencoba memahami sebab-akibat melalui kemampuan motorik, dan menguasai proses belajar dalam arti yang sesungguhnya.
Tahun ke-3:
Anak sudah menunjukkan penguasaan yang jauh lebih baik pada berbagai alat untuk belajar, seperti bahasa, ingatan, kemampuan motor, dan perasaan tentang dirinya sendiri.
Tahun ke-4 dan ke-5:
Kemampuan belajar anak jauh lebih berkembang sehingga memungkinkan ia menerima proses belajar secara formal.
5 Pujian yang Paling Di Sukai Kaum Hawa
Penghargaan dalam bentuk verbal, diyakini bermanfaat dalam kehidupan kita. Baik itu dalam kehidupan personal atau profesional. Manusia, senang sekali dipuji. Walaupun terkadang pujian dan kalimat-kalimat gombal memang agak susah dibedakan.
Berikut ini adalah 5 jenis pujian yang paling disukai oleh wanita:
“Kamu Nggak Tergantikan”
Ini adalah salah satu kalimat yang cukup jitu untuk membuat pasangan anda bahagia. Kenapa kalimat ini menjadi begitu efektif? Ingat ketika anda putus cinta. Hal yang paling menyedihkan dan sulit sehabis putus cinta adalah menemukan bahwa anda dengan cepat tergantikan oleh orang lain.
Dan mendengar kalimat ini dari mulut pasangan anda menjadi sangat menyenangkan. Kunci dari ucapan ini adalah dengan mengatakannya sambil menatap dalam-dalam mata pasangan anda. Dan biarkan kata-kata yang anda ucapkan berbicara lebih banyak bahwa dia adalah sosok yang unik dan tak tergantikan oleh siapapun juga.
“Kaulah Cahaya Hidupku”
Kadang-kadang memang terdengar berlebihan, tapi mari kita lihat lagi. Sebuah hubungan bisa berakhir dengan segera setelah salah satu dari pasangan bersikap tidak menghargai tindakan dari pasangan. Dengan mengatakan ini, pria hendak mengirim sinyal pada pasangannya bahwa pasangannya tersebut sudah melakukan banyak hal untuknya. Memilih untuk bersama dengan si pria, dan mendukung dengan memberikan banyak sekali dukungan. Dan kalimat Kaulah Cahaya Hidupku terdengar begitu indah ditelinga si wanita karena ini adalahsalah satu tanda bahwa si pria menghargai semua yang sudah dilakukan oleh pasangannya dan pengaruhnya bagi kehidupan pribadinya.
“Kamu Sempurna Seperti Adanya Dirimu”
Inilah kalimat yang membuat hari-hari wanita menjadi lebih cerah dan ceria. Karena mereka tidak lagi merasa harus berusaha terlalu keras untuk menjadi seseorangyang disukai oleh pasangannya. Dengan mengatakan kalimat ini, Pria telah memberikan sebuah tanda bahwa bagaimanapun juga, si wanita tetap terlihat sempurna dan selalu diterima, bagaimanapun keadaannya. Jika ingin membuat hari-hari pasanganAnda begitu terasa indah, kirimkan sebuah puisi atau cuplikan lagu terkenal tentang bagaimana mencintai orang dengan apa adanya. ex : Billy Joel – Just The Way You Are misalnya?
“Saya suka dengan…” (isilah titik2 ini dengan apa yang anda sukai dari pasangan anda)
Pilih salah satu bagian tubuh dari pasangan anda yang paling anda sukai. Katakan dengan tulus bahwa anda menyukainya. Kunci dari kalimat ini adalah ketulusan dan detail. Dengan memilih salah satu bagian yang bahkan dia sendiri tidak mengira anda menyukainya, anda akan meningkatkan rasa percaya dirinya. Wanita menyukai ini karena menganggap pria pasangannya memperhatikan detail dari diri sang wanita itu sendiri.
“Saya Sangat Bangga Denganmu”
Salah satu kunci keberhasilan dari sebuah hubungan adalah saling mendukung satu sama lain. Memperhatikan hal-hal yang dilakukan oleh pasangan anda dan menghargai semua hasil jerih payahnya adalah tindakan yang cukup bagus. Dukung pasangan anda dan berikan penghargaan dengan mengatakan kalimat ini.
http://www.diniaprelia.com/5-pujian-yang-paling-di-sukai-kaum-hawa/
Berikut ini adalah 5 jenis pujian yang paling disukai oleh wanita:
“Kamu Nggak Tergantikan”
Ini adalah salah satu kalimat yang cukup jitu untuk membuat pasangan anda bahagia. Kenapa kalimat ini menjadi begitu efektif? Ingat ketika anda putus cinta. Hal yang paling menyedihkan dan sulit sehabis putus cinta adalah menemukan bahwa anda dengan cepat tergantikan oleh orang lain.
Dan mendengar kalimat ini dari mulut pasangan anda menjadi sangat menyenangkan. Kunci dari ucapan ini adalah dengan mengatakannya sambil menatap dalam-dalam mata pasangan anda. Dan biarkan kata-kata yang anda ucapkan berbicara lebih banyak bahwa dia adalah sosok yang unik dan tak tergantikan oleh siapapun juga.
“Kaulah Cahaya Hidupku”
Kadang-kadang memang terdengar berlebihan, tapi mari kita lihat lagi. Sebuah hubungan bisa berakhir dengan segera setelah salah satu dari pasangan bersikap tidak menghargai tindakan dari pasangan. Dengan mengatakan ini, pria hendak mengirim sinyal pada pasangannya bahwa pasangannya tersebut sudah melakukan banyak hal untuknya. Memilih untuk bersama dengan si pria, dan mendukung dengan memberikan banyak sekali dukungan. Dan kalimat Kaulah Cahaya Hidupku terdengar begitu indah ditelinga si wanita karena ini adalahsalah satu tanda bahwa si pria menghargai semua yang sudah dilakukan oleh pasangannya dan pengaruhnya bagi kehidupan pribadinya.
“Kamu Sempurna Seperti Adanya Dirimu”
Inilah kalimat yang membuat hari-hari wanita menjadi lebih cerah dan ceria. Karena mereka tidak lagi merasa harus berusaha terlalu keras untuk menjadi seseorangyang disukai oleh pasangannya. Dengan mengatakan kalimat ini, Pria telah memberikan sebuah tanda bahwa bagaimanapun juga, si wanita tetap terlihat sempurna dan selalu diterima, bagaimanapun keadaannya. Jika ingin membuat hari-hari pasanganAnda begitu terasa indah, kirimkan sebuah puisi atau cuplikan lagu terkenal tentang bagaimana mencintai orang dengan apa adanya. ex : Billy Joel – Just The Way You Are misalnya?
“Saya suka dengan…” (isilah titik2 ini dengan apa yang anda sukai dari pasangan anda)
Pilih salah satu bagian tubuh dari pasangan anda yang paling anda sukai. Katakan dengan tulus bahwa anda menyukainya. Kunci dari kalimat ini adalah ketulusan dan detail. Dengan memilih salah satu bagian yang bahkan dia sendiri tidak mengira anda menyukainya, anda akan meningkatkan rasa percaya dirinya. Wanita menyukai ini karena menganggap pria pasangannya memperhatikan detail dari diri sang wanita itu sendiri.
“Saya Sangat Bangga Denganmu”
Salah satu kunci keberhasilan dari sebuah hubungan adalah saling mendukung satu sama lain. Memperhatikan hal-hal yang dilakukan oleh pasangan anda dan menghargai semua hasil jerih payahnya adalah tindakan yang cukup bagus. Dukung pasangan anda dan berikan penghargaan dengan mengatakan kalimat ini.
http://www.diniaprelia.com/5-pujian-yang-paling-di-sukai-kaum-hawa/
Senin, 19 September 2011
Syukur dan Sabar
Beruntunglah menjadi seorang muslim karena Allah SWT secara lengkap dan sempurna telah menyediakan panduan hidup terbaik dan contoh manusia terbaik yang dapat dijadikan model terbaik dalam menjalani kehidupan sementara di dunia ini dengan sebaik-baiknya. Termasuk tentunya di sini bagaimana mensikapi dengan benar persoalan-persoalan hidup yang pasti akan kita temui, karena dengan persoalan-persoalan itulah sesungguhnya Allah SWT menguji sejauhmana meningkatkan kualitas ketaqwaan seseorang di sisi Allah SWT.
Taqdir baik dan buruk merupakan ketentuan yang telah ditetapkan Allah SWT kepada setiap hambaNya. Sebagai contoh, kematian itu pasti akan datang menemui kita meskipun sangat mungkin kita merasa belum siap menghadapinya. Begitu juga bagaimana bentuk kehidupan kita setelah kematian—apakah mendapatkan kehidupan yang dicintai, diberkahi, dan diridhai Allah SWT atau sebaliknya—juga merupakan sebuah kepastian yang akan kita terima sebagai konsekuensi logis dari pilihan hidup yang dijalani selama diberi nafas kehidupan oleh Allah SWT. Menjalani kehidupan di dunia yang sangat-sangat singkat ini dibandingkan dengan kehidupan yang sesungguhnya di akhirat nanti dengan menjadi seorang muslim yang meniatkan seluruh kegiatan yang dipilihnya sebagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT yang telah menganugerahinya begitu banyak nikmat sehingga dipastikan tidak akan mampu menghitungnya. Menjadi seorang muslim yang menjadikan kecintaan, keridhaan, dan perjumpaan denganNya sebagai tujuan hidupnya, menjadikan dunia sebagai batu loncatan untuk menggapai kesuksesan sejati di kehidupan akhirat yang sejati.
Demikian juga dengan kegembiran dan kesedihan, kesuksesan dan kegagalan, kemenangan dan kekalahan, sehat dan sakit, ketenangan dan kecemasan, siang dan malam, kehidupan dan kematian, merupakan sebagian kecil contoh yang menunjukkan bahwa Allah SWT telah menyatakan dengan tegas bahwa hidup ini sesungguhnya penuh dengan kepastian, bukan kemungkinan-kemungkinan. Bahwa kebaikan yang kita usahakan, sekecil apapun menurut penilaian kita pasti akan dibalas dengan kebaikan yang lebih banya. Bahkan, ketika kita baru berniat akan melakukan kebaikan dan kita tidak jadi melakukannya, Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Apalagi ketika kita berniat melakukan kebaikan dan kemudian kita jadi melakukannya, maka Allah SWT mencatat di sisiNya 10 kebaikan hingga 700 kali lipat bahkan sebanyak yang dikehendakiNya.
Tidaklah berlebihan bahwa menjadi seorang muslim pastilah menjadi orang paling berbahagia di muka bumi ini, karena apapun ketetapan Allah kepada hambaNya, kata Rasulullah SAW, semuanya pasti baik adanya. Sebagaimana diriwayatkan Muslim, dari Abi Yahya Shuhaib bin Sinan r.a, Rasulullah SAW bersabda”Sangat mengagumkan keadaan orang mukmin itu, sebab keadaan bagaimanpun baginya adalah baik dan tidak mungkin terjadi demikian, kecuali bagi orang mukmin saja. Jika mendapat nikmat ia bersyukur dan itu baik baginya; dan bila menderita kesusahan ia bersabar, maka itupun baik baginya.”
Ibnu Qayyim Al Jauziyah r.a dalam bukunya Kemulian Syukur dan Keagungan Sabar mengingatkan kita untuk memahami konsep sabar secara menyeluruh. Sabar itu bukan hanya mampu menahan dirinya dari dorongan nafsu kemarahan (Hilm), tapi juga mampu menahan nafsu birahinya sehingga kemaluannya terjaga dari berbagai perbuatan terkutuk (‘Iffah), mampu menahan diri untuk tidak makan secara berlebihan atau secara terburu-buru (syara nafs/syaba’ nafs), dan mampu menahan diri untuk tidak senantiasa tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu (Waqar/Tsabat). Jangan mengaku sabar ketika kita masih suka membeberkan rahasia, suka mencari kambing hitam karena sabar itu adalah kitman sirr (mampu menahan diri untuk tidak mengatakan apa saja yang seharusnya tidak dikatakan), muru’ah (mampu menahan diri untuk tidak melemparkan hal-hal yang tidak disukai kepada orang lain), dan syaja’ah (mampu menahan diri untuk tidak lari dan kabur dari masalah yang dihadapi). Orang sabar itu, lanjut Ibnu Qayyim Al Jauziyah, zuhud/Qana’ah (mampu menjaga diri dari berbagai kelebihan dunia dan sanggup menyepelekannya; mengambil hanya sebagian kecil dari dunia untuk mencukupi kebutuhan, dermawan (mampu menahan diri untuk tidak pelit kepada orang lain), pemaaf/pemurah (mampu menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain, dan cerdik (mampu menahan diri untuk tidak berlaku malas dan ogah-ogahan dalam waktu yang seharusnya bergerak).
Maka, apapun yang ditetapkan Allah SWT kepada kita itu pasti baik adanya. Allah SWT tidak pernah memberi soal di luar kesanggupan kita untuk menyelesaikannya dan setiap soal itu pasti ada jawabannya. Jangan pernah terbersit sedikit pun dalam hati dan pikiran untuk berputus asa dari rahmat Allah SWT karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan dan sesudah kesulitan pasti ada kemudahan yang mengikutinya. Masihkah ada lagi alasan yang membuat kita terus menerus bersedih dan takut terhadap kehidupan dunia yang singkat, penuh permainan dan senda gurau ini?
Sabar dan Syukur: Cara Terbaik Mensikapi Taqdir By Irwan Nuryana Kurniawan
Langganan:
Postingan (Atom)
