Bahkan dalam ajaran Islam, sudah lama
dikumandangkan Khalifah Umar, pentingnya memperhitungan baik buruknya
perbuatan seseorang, sebelum diperhitungkan di hari akhirat nanti.
Sehingga oleh muarikh, tahun hijrah itu diciptaan penggunaanya khalifah
jujur itu. Lagi pula makna hijrah itu pindah dari Mekah ke Medinah atau
hakekatnya, pindah dari kegelapan kepada yang benderang ( Min al-zhlumat
ila al-nur ).
Karena negara kita masih
terkenal rangking 6 koruptor dunia, mungkin anda sependapat penulis,
bahwa prioritas utama menyambut tahun baru hijrah adalah mengubah urutan
rangking memalukan oleh tekad seluruh lapisan masyarakat. Salah satu
programnya ialah mendidik anak saleh yang belum terkontaminasi
kebusukan, dengan cara mengamputasi, seperti yang dikenal dalam
kedokteran. Bagaimana kaifiatnya menurut Alquran ?.
Pengertian :Dalam
Bahasa Arab, ‘saleh’ atau aslinya “shalih”, menunjukkan lawan dari
kerusakan, yakni selalu ingin berbuat baik dan mendamaikan. Dalam
hubungan ini, kota Mekah disebut sebagai kota kesalehan, karena ditempat
itu ada Ka’bah yang merupakan tempat, dapat memperbaiki diri dan
bertobat ( Maqayis Lughat : 574 ).
Menurut
mufasir Al-Jazairi, yang disebut anak saleh ialah “Mereka yang mampu
melaksanakan kewajibannya dengan baik. Terhadap Allah SWT dan kepada
sesama manusia. Atau anak yang saleh ialah dominan amal baiknya dari
amal jeleknya”( Juz II : 5O4).
Dari
pengertian tersebut dipahami, anak saleh itu ialah anak yang taat kepada
Allah, taat kepada Rasul dan taat kepada kedua orangtuanya serta
berprilaku baik kepada sesama manusia dan lingkungannya (termasuk
negaranya).Atau anak saleh ialah anak yang selalu siap mendamaikan,
memperbaiki yang jelek serta mempunyai keterampilan yang berguna kepada
masyarakat. Bukan dimonopoli hanya orang yang kuat ke mesjid dan banyak
membaca tasbih, seperti pengertian klasik.
Dalam Alquran:Dalam
Alquran terdapat 29 ayat yang memberi gambaran, betapa pentingnya
kesalehan itu diorbitkan, doa-doa yang mendukung untuk dimunajatkan
orang tua kepada Allah, agar anaknya menjadi anak yang saleh.
Diantaranya :
(l) “Dan kawinilah
orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak ...
Jika mereka miskin, Allah akan memberi kurniaNya. (QS.24:32).
(2) “ …Kami tuliskan dalam Lauh (Mahfudz), bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh” (QS.2l:lO5).
(3)
“(Ya Allah) Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah
aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh”
(QS.l2:lOl).
Dari tiga ayat tersebut
dipahami, bahwa dalam rangka pembinaan manusia saleh, maka jenjang
pertama adalah membangun dasar-dasar perkawinan yakni dengan membentuk
keluarga bahagia. Dengan memilih pasangan hidup yang mukmin dan saleh
(Taat menjalankan agama), erta melihat keturunannya agar dapat
memperoleh hasilnya karena menggunakan bibit unggul.
Kemudian
pada ayat kedua, digambarkan pentingnya pembinaan keluarga, harus
didukung kemampuan ilmu dan keterampilan, dalam kapasitas manusia
sebagai pewaris dari hamba-hamba Allah yang terpilih dan mampu menggali,
mengolah dan memberdayakan sumberdaya alam dan memeliharanya. Artinya,
kesalehan itu bukanlah mereka yang suka membuat kerusakan di dunia, atau
yang mencari keuntungan pribadi, sekalipun harus mengorbankan ekosisten
bumi.
Kemudian pada ayat ketiga,
dianjurkan perlunya lahir anak-anak saleh dengan selalu berdoa kepada
Allah, agar dikurniai keturunan muslim yang saleh, yang dapat
memakmurkan bumi.
Konsepsi pembinaan manusia menjadi saleh menurut
Alquran dapat diciptakan yang esensinya, dengan mengikuti
nasehat-nasehat Lukman al- Hakim kepada anaknya, yang diabadikan
Alquran, yaitu:
(l) Janganlah kamu
mempersekutukan Allah dengan sesuatu, karena sesungguhnya
mempersekutukan Allah benar-benar kezaliman yang besar.
(2) Bersyukurlah kepada Allah dan berterima kasihlah kepada kedua orangtuamu.
(3) Jika orangtuamu memaksamu menjadi musyrik, janganlah ditaati (tetapi), tetap berbuat baik kepada keduanya di dunia.
(4) Ingatlah, sekecil apapun perbuatan yang kamu lakukan, Allah akan membalasnya.
(5) Dirikanlah salat, berbuatlah yang makruf dan cegahlah perbuatan mungkar.
(6)Janganlah kamu bersombong, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang sombong.
(7)Berjalannlah dengan langkah sederhana dan lunakanlah suaramu. (QS.3l:l3-l9)
Ketujuh
ayat tersebut, titik beratnya ada 3. Pertama, akidah harus diperkuat,
jangan sampai rusak lantaran harta atau pangkat atau pengaruh pemurtadan
budaya barat. Hendaknya diyakini bahwa Tuhanlah pemberi rezeki dan
mensyukur pemberiannya. Kedua, hendaknya meyakini, kejahatan dan korupsi
sekecil apapun akan mendapat balasan di dunia dan akhirat. Ketiga,
harus banyak beribadah, berbuat baik dan mencegah kemungkaran.
Didalam hadis :Pembentukan anak saleh dijabarkan melalui hadis, diantaranya:
(l) Rasulullah mengazan telinga cucunya Hasan, ketika lahir (HR.A. Dawud ).
(2) “Perintahkanlah anak-anakmu melakukan salat di usia 7 tahun… “(HR.Muslim)
(3)
Berilah anakmu nama yang baik , makanan yang halal, pisahlah dari
tempat tidurnya dan kawinkanlah setelah dewasa (HR.Annasai).
Khalifah
Umar memerintahkan kepada Gubernur, “ Ajarlah anak-anakmu berenang,
berpanah dan menunggang kuda “( termasuk keterampilan ), seperti menjadi
sopir, penulis, ahli komputer).
Imam
Al-Gazali melengkapi bahwa hakikat mendidik anak saleh, agar anak tidak
diberi makanan yang syubhat apalagi haram, baik zatnya atau cara
memperolehnya. Sebab semua bibit yang kotor ( misalnya hasil korupsi ),
hasilnya pasti kotor pula.
Akhirnya,
kaifiat Alquran mendidik anak saleh, dimulai tauhid yang kuat, hanya
Allah yang disembah, lalu latihan ibadah, keterampilan dan akhlak,
kemudian memberi makanan halal serta selalu mendoakan setiap selesai
salat